Home / 18+ / Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

“Her, nanti kamu ambil uang di ruangan saya bawa saja dulu semuanya nanti kamu nego hutang orang tua Fanny, kalau tak cukup nanti hubungi saya lagi…”, Herman menelponku agar aku mengurus hutang-hutang orang tua Fanny. Herman bilang, ayah Fanny menjual ibunya ke Bang Salihin untuk menebus hutang-hutang mereka. Bang Salihin terkenal sebagai kepala preman di daerah ini ia juga yang membacking prostitusi yang ada di belakang komplek rumah Fanny. Aku kemudian mengajak Memet dan Syam, karena mereka pernah dibawah pimpinan Bang Salihin.Uang di meja Herman ternyata sekitar delapan puluh dua juta Rupiah, tumben sekali Herman menyimpan dana tunai seperti ini. “Jam segini dia pasti ada di tempat prostitusi itu”, kata Memet. “Orangnya agak susah diajak nego, mungkin susah kita mau lepaskan jeratan hutang-hutang keluarga Fanny”, sambung Syams selagi kami dalam perjalanan menuju ke arah sana.

Aku belum pernah memasuki daerah ini dari luar cuma nampak seperti komplek perumahan biasa makin ke dalam malah semakin sepi, kiri kanan hanya ada pohon seperti masuk ke dalam hutan jalan pun rusak parah. Namun sampai ke dalam ada plang tertulis ‘Selamat datang di 1001 Malam’. Masuk dari gerbang ini sudah terlihat ramai kiri kanan penuh mobil dan motor yang parkir, kemudian ada meja dan kursi tempat nongkrong orang-orang di sini. Ku lirik kanan dan kiri banyak sekali perek-perek yang memandangi kami bahkan banyak juga yang masih ABG. Ada beberapa orang berpakaian loreng mereka adalah anggota brimob yang membacking atau hanya sekedar mengecek atau bermain-main di sini. Para pria hidung belangpun menatapi kami wajar mungkin bagi mereka kami adalah orang baru di sana karena Memet dan Syams pun sudah lama tidak mengikuti Bang Salihin.

Di dalam ada beberapa gedung dan gedung yang paling besar itu adalah tempat di mana Bang Salihin nongkrong. Kami pun turun coba berjalan ke arah pintu yang dijaga beberapa orang berbadan kekar. “Met, lama tak tengok muka busuk kau…”, teriak salah satu pria yang berjaga itu, ia sepertinya kenal dekat dengan Memet. Ternyata namanya Dani, teman Memet juga selagi dulu di bawah pimpinan Bang Salihin. Setelah berkenalan, kami pun menjelaskan maksud kedatangan kami. “Hmm, kayaknya gue pernah dengar kasus ini…”, jelas Dani. “Ibunya Fanny sekarang bekerja di sini sebagai wanita penghibur, namanya Uly…”. Cukup tragis terdengar apalagi mendengar kelanjutan cerita Dani, “Suaminya Uly telah menjualnya ke Bang Salihin, terus suaminya sudah tidak di sini, dengar-dengar sih kabur ke Bali… Hutangnya besar Met, dengar-dengar sampai miliaran Rupiah…”. Mendengar itu aku sangat kaget, apalagi aku hanya membawa puluhan juta Rupiah. “Dengar-dengar Fanny juga dijual ke Bang Salihin…”, lanjut Dani. “Apa bisa kami ketemu dengan ibunya Fanny?”, tanyaku. “Hmm, di sini tidak diperbolehkan bertemu tamu, kalau mau kalian boking aja…”, jawab Dani. Aku sebenarnya cuma mau minta petunjuk ibunya Fanny, aku takut ketemu Bang Salihin yang semakin membuat kacau keadaan, apalagi nanti kalau dia tahu keberadaan Fanny ada di tempat kami. “Oke lah, kami bawa keluar…”, balasku. “Ops, ga bisa bro, cuma diperbolehkan main di sini… Ambil kamar saja, ga mahal kok, tar untuk kalian gue kasih diskon, apalagi Memet kawan gue…”, jawab Dani. Mau tidak mau aku menyetujuinya.

Sambil menuntun kami ke arah kamar Dani mengolok-ngolok kami, “Doyan threesome juga bro? Hahaha…”. Memet hanya membalas, “Kayak gak tau aja…”. Kuperhatikan keadaan sekeliling, isi gedung ini seperti hotel, ada sekat kamar di sepanjang lorong kiri dan kanan mungkin ada sekitar puluhan kamar di gedung ini. Kondisi pun bersih terawat seperti hotel-hotel mewah pada umumnya. Ada beberapa gadis ABG berlalu lalang ditemani pria hidung belang. Kami menuju ke lantai dua tidak jauh dari tangga Dani membukakan pintu sebuah kamar.

Aku dan Syams masuk duluan, sedangkan Memet membereskan pembayaran terlebih dahulu di depan kamar seperti biasa pengantar pasti minta tips. Memet dan Dani ngobrol cukup lama di depan pintu, aku membiarkannya anggap saja mereka sedang reuni. Di dalam kamar terdapat ranjang besar seorang wanita sedang duduk sambil nonton televisi. “Uly?…” tanyaku padanya. “Iya, dua orang ya?”, tanya wanita itu. Saat ia menoleh ke arahku aku cukup kaget dia seorang wanita yang cantik wajah orientalnya sangat manis, tubuhnya masih seksi walaupun umurnya mungkin sudah menginjak kepala tiga. “Kami mau berbincang sebentar…”, kataku sambil mendekatinya. “Oops, kalian kalau mau wawancara, minta ijin sama bos saja dulu…”, jawabnya yang kesal mengira kami adalah reporter. “Gini… Kami mau tanya…”, belum sempat menyelesaikan pembicaraan, tante Uly langsung memotong, “Maaf, saya bekerja sesuai perintah atasan!”, hardiknya. “Baiklah…”, jawab Syam yang juga terlihat kesal, ia langsung membuka resletingnya. Padahal kami ke sini untuk maksud baik dijawab seperti itu tentunya Syams cukup naik pitam.

Tante Uly langsung membuka laci meja yang ada di samping ranjang, ia mengeluarkan dua buah kondom lalu membukanya. Syams segera menanggalkan seluruh pakaiannya lalu mendekati tante Uly. Penisnya diarahkan ke wajah tante Uly agar tante Uly segera memakaikan kondom tersebut. Setelah itu tante Uly langsung mengulum penis Syams yang telah dibungkus kondom bercita rasa pisang. Di sini memang sangat terjaga akan keamanannya tidak boleh ada yang tidak memakai kondom. Makanan dan minuman pun dilarang bawa dari luar bahkan rokok sekalipun. Seminggu sekali para wanita penghibur di sini juga dicek kesehatannya bila ada yang terjangkit penyakit HIV AIDS maka akan segera diungsikan ke panti rehabilitasi.

Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

Melihat aksi tante Uly mengulum penis Syams seperti menikmati eskrim calpico yang nikmat penisku pun terasa mengeras. Aku juga tidak memikirkan tujuan kedatangan kami lagi segera aku juga membuka pakaianku hingga telanjang bulat. Ku dekati tante Uly dan ku pretel habis pakaian tante Uly. Susunya besar dan motok segera kuremas-remas dengan penuh nafsu. Setelah puas dikulum Syams ingin merasakan Goyangan Tante Uly, ia segera membaringkan tubuh tante Uly dan menusukkan penisnya langsung ke vagina tante Uly. Karena sibuk melayani Syams, aku yakin tante Uly tidak sempat memakaikan kondom ke penisku jadi terpaksa aku memakaikannya sendiri. ‘Wah, dapat rasa strawberry nih’, pikirku dalam hati melihat bungkus kondom yang barusan ku sobek. Aku sudah tak sabar ingin merasakan kuluman tante Uly. Ku arahkan penisku ke mulut tante Uly yang terbaring di atas ranjang. Dua lubang dibantai sekaligus sepertinya tante Uly sudah sangat terlatih.

Kata orang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, hmm, ternyata benar, kecantikan Fanny dan tante Uly sudah bagaikan pinang dibelah dua. Anak dan ibu sangat cantik hingga menggoda nafsu. “Oh yes…”, desahku kenikmatan merasakan penisku yang semakin hangat di dalam mulut tante Uly. Tante Uly pun sepertinya sangat menikmati penisku hahaha, benar-benar dicicipi seperti permen lolipop rasa strawberry. “Ini rasa kesukaanku…”, kata tante Uly menyempatkan bicara disela menyepong.
Tubuhnya bergoncang karena tusukan Syams yang bersemangat, susunya kuremas cukup besar hingga tanganku hampir tidak menutupinya. Matanya hanya meram melek menikmati goyangan aku sebenarnya kurang tak tega, karena anaknya FAnny sudah bergabung dengan kami, tapi kapan lagi dapat kesempatan seperti ini?

Hampir setengah jam kami bercinta two in one, Memet pun belum kunjung masuk menyusul. Aku pun sudah bergantian posisi dengan Syams. Walau tante Uly sudah berumur tapi vaginanya masih seret, hanya karena becek membuat aku lebih mudah melesapkan penisku ke lubang vaginanya. Ku peluk tubuh tante Uly hingga dadaku menyentuh erat dengan susunya ku goyang terus di atas ranjang sedangkan Syams sedang istirahat ia menyalakan rokok dan duduk sambil memilih siaran televisi.

Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

Cerita Dewasa Indo Goyangan Nikmat Tante Uly

Cukup lama aku menikmati tubuh tante Uly hingga aku pun berejakulasi. Ku tarik penisku yang penuh dengab sperma terbalut kondom Tante Uly kemudian terkapar karena cukup lelah. Aku pun meninggalkannya untuk membersihkan penisku di kamar mandi dalam kamar mandi ku dengar Syams dan tante Uly sedang berbincang-bincang Syams pasti menceritakan maksud kedatangan kami. Aku pun keluar dari kamar mandi walaupun kami bertiga masih dalam keadaan bugil tapi kami tidak sungkan untuk saling berkenalan.

Tante Uly langsung meneteskan air mata setelah mendengar kabar dari kami. “Fanny yang malang…”, kata tante Uly. “Bapaknya yang penjudi itu telah menjual kami ke bang Salihin, untungnya Fanny bisa kabur…”, sambung tante Uly. “Tante sudah nyicil hutang-hutang bapaknya Fanny, tidak banyak lagi semoga tante bisa keluar dari tempat ini dan segera bertemu dengan Fanny…”, kata tante Uly yang membuatku menjadi sedikit iba. Ia benar-benar merindukan anaknya air matanya bercucuran hingga membasahi pipinya. “Tenang saja, Fanny baik-baik saja dia juga rindu kok sama tante…”, aku berusaha membujuknya agar tidak menangis lagi. Lalu kucari celanaku untuk mengambil uang, “Emangnya sisa hutangnya berapa?” aku bertanya kembali.

“Tinggal seratus juta, tapi bang Salihin sangat kejam, ia pasti menghitung bunganya juga…”, jawab tante Uly semakin sedih. ‘Waduh, uang yang ku bawa tidak lah cukup’, pikirku dalam hati.
Aku pun menjelakannya kepada tante Uly agar dia tenang karena aku akan menghubungi Herman untuk membawa sisanya. “Telp boss lah Syam…”, aku memerintahkan Syams Ia lalu berdiri dan mencari handphone nya yang tertinggal di saku celana.

Belum sempat mendapati handphone pintu pun terbuka. Memet masuk beserta seorang pria besar dengan tegap dan berwajah garang. “Man, nih bang Salihin…”, Memet memperkenalkanku dengan pria berwajah garang itu. “Boss…”, sapa tante Uly kepada pria itu. Aku pun kemudian berjabat tangan dengannya pria besar itu adalah pimpinan di sini wajahnya terdapat goresan membuatku sedikit takut melihatnya. “Oke, Memet sudah menjelaskan kedatangan kalian… Kalau tidak memandang Memet, aku tak akan lepaskan wanita ini…”, kata bang Salihin. Mungkin Memet sudah banyak berjasa padanya. “Kalian bawa saja wanita ini…”, katanya. “Terima kasih bang…”, kami mengucapkan terima kasih padanya.

Pria besar itu pun pergi dari kamar sambil berkata, “tapi main-nya ga gratis ya…”. Kami pun tertawa sambil menjawab, “Iya bang, kami tambah waktu… Tar kami bayar…”, jawab kami. Tante Uly kegirangan lalu memelukku yang berada paling dekat dengannya. “Thanks…”, bisiknya di dekat telingaku. Memet yang tadi tidak sempat menikmati tante Uly pun segera menanggalkan pakaiannya. “Ini ga gratis loh, bang Salihin minta bantu menemukan keberadaan bapaknya Fanny…”, kata Memet.

Ternyata sedari tadi Memet bernegosiasi dengan bang Salihin. “Tenang aja bro, itu sudah kerjaan kita dari dulu…”, lanjut Syams. “Sebagai tanta terima kasih, aku akan melayani kalian seumur hidup…”, kata tante Uly yang kemudian kembali membagikan kami kondom. Hahaha, ronde selanjutnya nih.
Aku dan Syams membiarkan Memet beraksi sendiri terlebih dahulu. Tante Uly melayani Memet dengan sangat semangat tanpa kenal lelah. Ini kesempatan kami karena kalau sudah kembali ke tempat kami Herman lah yang berkuasa. Memet menyetubuhi tante Uly dengan nafsu selayak suami istri permainan cinta yang kemudian mengundang nafsu birahi kami. Hatiku kembali berkecamuk jantungku berdegup kencang dan penisku mulai kembali menegang. “Napa man? Mau lanjut?”, tanya Syams yang sedang duduk di sampingku. “Hahaha, kayak bro ga nafsu aja…”, balasku yang kembali menghisap rokok dan mencari channel tv yang enak ditonton. Syams juga kelihatan kembali bergairah malu menjawab pernyataanku tadi ia hanya memainkan penisnya yang kembali mengeras.

Memet memeluk tante Uly dengan erat dilumatnya bibir tante Uly sambil menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok vagina tante Uly dengan penisnya. “Enakk…”, rintihan tante Uly yang benar-benar jelas terdengar.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, aku pun bangkit dan coba melihat apa yang terjadi. “Ada apa?”, tanyaku melihat Dani di depan pintu. “Jangan lama mas takut boss berubah pikiran…”, kata Dani yang sedari tadi juga mengawasi gelagat bang Salihin. “Kalau ga mandang Memet, gue sih ga bakal kasih saran…”, lanjut Dani. “Iya bro, ne lagi tungguin Memet…”, jawabku. Benar juga pikirku dalam hati bang Salihin sudah memberi kemudahan kalau ia berubah pikiran bisa-bisa kami tidak diperbolehkan keluar dari sini.
Aku pun kembali masuk dan mengenakan kembali pakaianku. “Mau ke mana man? Belum ronde dua nih…”, tanya Syams. “Kita mesti cepat tinggalin tempat ini bro sebelum bang Salihin berubah pikiran…”, jawabku sambil mengemas semuanya. Mendengar itu, Syams juga segera memakai kembali pakaiannya. Kami hanya menunggu Memet dan tante Uly menyelesaikan acara mereka.

Tidak lama, mereka sudah terkapar Memet dan tante Uly sudah menyelesaikan permainan cinta mereka dan mencapai orgasme. Aku pun meminta mereka segera bergegas untuk meninggalkan tempat ini tanpa menunggu lama, kami pun keluar tak berani berpamitan dengan bang Salihin kami hanya keluar dengan diantar oleh Dani sampai ke parkiran. “Thanks bro..”, salam Memet sambil berjabat tangan dengan Dani. “Sip, kapan-kapan kita ngumpul lagi…”, balas Dani.

Aman pikirku kami pun keluar dari tempat itu aku menyupir dan Memet duduk di sampingku sedangkan Syams dan tante Uly duduk di belakang ternyata di sepanjang perjalanan Syams melanjutkan percintaannya dengan tante Uly. Ia membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengerah Tante Uly pun mulai mengocoknya mereka tidak takut dengan pandangan dari luar karena jendela mobil menggunakan kaca film sehingga sulit melihat jelas ke dalam mobil dari arah luar. Tante Uly sudah profesional, ia mulai menundukkan kepalanya untuk menyepong penis Syams. Sialan pikirku tahu gini aku milih duduk di belakang saja deh sedikit iri juga karena permainan mereka hanya membuat penisku terangsang tanpa pelampiasan.

Akhirnya sampai juga di tempat usaha Herman sedangkan Memet dan tante Uly sudah menyudahi aktivitas mereka kami segera naik ke lantai tiga tempat biasanya kami berkumpul. “Mamaaaa…..”, teriak Fanny ketika melihat kami tiba bersama ibunya. “Sudah beres?”, tanya Herman padaku. “Sip dah…”, jawabku. Reuni antara ibu dan anak pun berlangsung beberapa saat setelah itu kami pun saling berkenalan. Hmm nambah anggota lagi nih tempat kami. “Oke, nanti malam kita buat pesta…”, kata Herman membuat seluruh orang di sini bersorak gembira.

TAMAT.

Video bokep Indonesia

About admin

Check Also

Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Nindi

Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Nindi

Cerita Sex Jeritan Nikmat Tante Nindi Pada suatu hari yang cerah pagi pagi sekali sekitar …