Home / CERITA SEX / Cerita Dewasa Bercumbu Dengan Pacar Di Hotel
agen togel

Cerita Dewasa Bercumbu Dengan Pacar Di Hotel

d616b7bc6ef4578_size83_w640_h678

Sebuah cerita nyata dengan identitas pelaku saya samarkan untuk mengayomi saya dan orang-orang yang tercebur dalam cerita saya. Tadinya seluruh cerita saya bakal saya tulis dalam satu cerita. Tetapi ternyata paling panjang. Padahal cerita ini terdiri dari episode-episode. Karenanya saya jajaki memecah menjadi sejumlah bagian, namun tiap unsur (episode) bisa berdiri sendiri. Saya tidak tahu guna apa mengisahkan ini semua. Tetapi setelah seluruh saya tumpahkan dalam cerita, terdapat perasaan lega dalam diri saya. Saya laksana terbebas dari himpitan berat sekitar bertahun-tahun. Inilah cerita saya.

Saya seorang lelaki berumur 40 tahun. Istri saya setahun lebih muda dari saya. Secara borongan kami family bahagia dengan dua anak yang manis-manis. Yang sulung, perempuan ruang belajar II SMP (Nisa) dan bungsu laki-laki ruang belajar 3 SD. Saya bekerja di suatu perusahaan telekomunikasi. Sedangkan istri saya seorang perempuan karier yang berhasil di bidang farmasi. Kini dia menjabat sebagai Distric Manager. Kami saling mencintai. Dia adalahseorang istri yang setia.

Saya sendiri pada dasarnya suami yang setia pula. Paling tidak saya setia terhadap perasaan cinta saya untuk istri saya. Tapi tidak guna soal seks. Saya seorang peselingkuh. Ini semua sebab saya mempunyai libido yang amat tinggi sedangkan istri saya tidak lumayan punya minat di bidang seks. Saya mengharapkan hubungan sangat tidak dua kali dalam seminggu. Tetapi istri saya memandang sekali dalam seminggu telah berlebihan.
Dia pernah bilang untuk saya, “Lebih enak hubungan sekali dalam sebulan.”
Tiap kali hubungan kami menjangkau orgasme bersama-sama. Jadi sebetulnya tidak terdapat masalah dengan saya.

Rendahnya minat istri saya tersebut dikarenakan dia terlampau terkuras tenaga dan pikirannya guna urusan kantor. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 dan kembali lepas Maghrib. Sampai di lokasi tinggal sudah lesu dan selama pukul 20.00 dia telah terlelap, meninggalkan saya kekeringan. Kalau telah begitu seringkali saya mengerjakan onani. Tentu tanpa sepengetahuan dia, sebab malu bila ketahuan.

Selama perkawinan kami telah tak terhitung berapa kali saya berselingkuh. Kalau istri saya tahu, saya tak dapat membayangkan akan laksana apa neraka yang diciptakannya. Bukan apa-apa. Perempuan-perempuan yang saya tiduri ialah mereka yang paling dekat dengan dia. Saya menyimpan rapat rahasia itu. Sampai kini. Itu sebab saya mengerjakan persetubuhan melulu sekali terhadap seorang wanita yang sama. Saya enggan mengulanginya. Saya khawatir, pengulangan akan melibatkan perasaan. Padahal yang saya mau cuma persetubuhan fisik. Bukan hati dan perasaan. Saya berjuang mengindarinya sebisa mungkin, dan memberi kesan untuk si wanita bahwa seluruh yang terjadi ialah kekeliruan. Memang ada sejumlah perempuan sebagai perkecualian yang nanti bakal saya ceritakan.

Perempuan kesatu yang saya tiduri sejak menikah tidak lain ialah kakak istri saya. Oh ya, istri saya adalahanak ketiga dari lima bersaudara. Semuanya perempuan. Istri saya sebut saja mempunyai nama Yeni. Kedua kakak Yeni telah menikah dan punya anak. Mereka family bahagia semuanya, dan sudah mempunyai tempat bermukim masing-masing. Hanya saya dan istri yang ikut mertua dua tahun kesatu perkawinan kami. Setiap minggu family besar istri saya berkumpul. Mereka family yang hangat dan saling menyayangi.

Mbak Maya, kakak istri saya ini ialah seorang wanita yang dominan. Dia terlihat paling menguasai suaminya. Saya sering menyaksikan Mbak Maya menghardik suaminya yang berpenampilan culun. Suami Mbak Maya tidak jarang berkeluh-kesah dengan saya mengenai sikap istrinya. Tetapi untuk orang beda Mbak Maya paling ramah, termasuk untuk saya. Dia bahkan paling baik. Mbak Maya tidak jarang datang bareng kedua anaknya berangjangsana ke lokasi tinggal orang tuanya -yang dengan kata lain rumah saya juga- tanpa suaminya.
Kadang-kadang sebagai basa-basi saya bertanya, “Kenapa Mas Wid tidak diajak?”
“Ahh malas saya ngajak dia,” jawabnya.
Saya tak pernah bertanya lebih jauh.

Seringkali ketika Mbak Maya datang dan menginap, pas istri saya sedang tugas luar kota. Istri saya dua minggu sekali terbit kota ketika itu. Dia ialah seorang detailer yang gigih dan ambisius. Jika telah demikian seringkali ibu mertua saya yang menyiapkan kopi bikin saya, atau santap pagi dan santap malam. Tapi andai pas terdapat Mbak Maya, ya si Mbak berikut yang menggantikan tugas ibu mertua. Tak jarang Mbak Maya mendampingi saya makan.

Karena seringnya bertemu, maka saya juga mulai dirasuki benak kotor. Saya tidak jarang membayangkan dapat tidur dengan Mbak Maya. Tapi mustahil. Mbak Maya tidak mengindikasikan tipe wanita yang gampang disuruh tidur. Karenanya saya hanya dapat membayangkannya. Apalagi bila pas hasrat menggejolak sedangkan istri saya up country. Aduhh, tersiksa sekali rasanya. Dan senja itu, sehabis mandi keramas saya mengeringkan rambut dengan kipas angin di dalam kamar. Saya melulu bercelana dalam saat Mbak Maya seketika membuka pintu.

“Kopinya Dik Andy.”
Saya terkejut, dan Mbak Maya buru-buru memblokir pintu saat melihat sebelah tangan saya sedang di dalam celana dalam, sedangkan satu tangan beda mengibas-ibas rambut di depan kipas angin. Saya malu awalnya. Tetapi lantas berpikir, apa yang terjadi sekiranya Mbak Maya menyaksikan saya bugil saat penis saya sedang tegang?

Pikiran tersebut terus mengusik saya. Peristiwa membuka pintu kamar dengan seketika bukan urusan yang tidak mungkin. Adik-adik dan kakak-kakak istri saya memang terbiasa begitu. Mereka kelihatannya tidak memandang masalah. Seolah kamar kami ialah kamar mereka juga. Adik istri saya yang bungsu (masih ruang belajar II SMU, sebut saja Rosi) bahkan pernah mencaplok masuk begitu saja saat saya sedang bergumul dengan istri saya. Untung saat tersebut kami tidak sedang bugil. Tapi dia sendiri yang malu, dan berhari-hari meledek kami.

Sejak peristiwa Mbak Maya membuka pintu itu, saya jadi tidak jarang memasang diri, tiduran di dalam kamar dengan melulu bercelana dalam seraya coli (onani). Saya melulu ingin mengawal supaya penis saya tegang, dan bercita-cita saat tersebut Mbak Maya masuk. Saya rebahan sambil menyimak majalah. Sialnya, yang saya incar tidak pernah datang. Sekali waktu justeru si Rosi yang masuk bikin meminjam lipstik istri saya. Ini memang telah biasa. Buru-buru saya tutupkan CD saya. Tapi rupanya mata Rosi keburu melihat.

“Woww, indahnya.”
Dia terlihat cengengesan seraya memolesi bibirnya dengan gincu.
“Mau kemana?” tanya saya.
“Nggak. Pengin makai lipstik aja.”
Saya meneruskan membaca.
“Coli ya Mas?” katanya.
Gadis ini memang manja, dan paling terbuka dengan saya. Ketika saya masih berpacaran dengan istri saya, kemanjaannya bahkan luar biasa. Tak jarang bila saya datang dia menggelendot di punggung saya. Tentu saya tak punya benak apa-apa. Dia kan masih kecil masa-masa itu. Tapi sekarang. Ahh. Tiba-tiba saya memperhatikannya. Dia telah dewasa. Sudah seksi. Teteknya 34. Pinggang ramping, kulit bersih. Dia yang sangat cantik salah satu saudara istri saya.

Pikiran saya mulai kotor. Berdasarkan keterangan dari saya, bakal lebih gampang sebenarnya menjebak Rosi daripada Mbak Maya. Rosi lebih terbuka, lebih manja. Kalau cuma menghirup pipi dan mengecup bibir sedikit, bukan urusan yang sulit. Dulu saya tidak jarang mengecup pipinya. Tapi semenjak dia kelihatan telah dewasa, saya tak lagi melakukannya. Akhirnya sasaran jebakan saya berpindah ke Rosi. Saya mengupayakan melupakan Mbak Maya.

Sore selepas mandi saya rebahan di lokasi tidur, dan pulang memasang jebakan guna Rosi. Saya berbulat hati guna memancing dia. Ini hari terakhir istri saya up country. Artinya kelak di kamar ini telah ada istri saya. Saya elus perlahan-lahan penis saya sampai berdiri tegak. Saya tidak menyimak majalah. Saya seolah sedang onani. Saya pejamkan mata saya. Beberapa menit lantas saya dengar pintu kamar berderit lembut. Ada yang membuka. Saya diam saja seolah sedang keenakan onani. Tidak terdapat tanggapan. Saya menyaksikan pintu dengan sudut mata yang terpicing. Sialan. Tak terdapat orang sama sekali. Mungkin si Rosi langsung kabur. Saya nyaris saja menghentikan onani saya saat dari mata yang nyaris tertutup saya lihat bayangan. Segera saya mengelus-elus penis saya dengan agak cepat dan badan bergerak-gerak kecil. Saya mengupayakan mengerling salah satu picingan mata. Astaga! Kepala Mbak Maya di tepi pintu. Tapi kemudian bayang-bayang itu lenyap. Lalu hadir lagi, hilang lagi, Kini tahulah saya, Mbak Maya sembunyi-sembunyi menyaksikan saya. Beberapa saat lantas pintu ditutup, dan tak dimulai kembali hingga saya menghentikan onani saya. Tanpa mani keluar.

Malamnya, di meja santap kami santap bersama-sama. Saya, kedua mertua, Mbak Maya, Rosi dan kakak Rosi, Mayang. Berkali-kali saya menikmati Mbak Maya menyimak saya. Saya berdebar-debar menginginkan apa yang terdapat di benak Mbak Maya. Saya sengaja memperlambat santap saya. Dan ternyata Mbak Maya juga demikian. Sehingga sampai seluruh beranjak dari meja makan, bermukim kami berdua. Selesai santap kami tidak segera berlalu. Piring-piring kotor dan makanan telah dirapikan Mak Jah, penolong kami.

“Dik Andy kesepian ya? Suka begitu bila kesepian?” Mbak Maya mebuka suara.
Saya kaget. Dia duduk serupa di kanan saya. Dia memandangi saya. Matanya seakan jatuh kasihan untuk saya. Sialan.
“Maksud Mbak May apaan sih?” saya pura-pura tidak tahu.
“Tadi Mbak May lihat Dik Andy ngapain di kamar. Sampai Dik Andy nggak liat. Kalau sedang gitu, kunci pintunya. Kalau Rosi atau Ibu lihat gimana?”
“Apaan sih?” saya tetap pura-pura tidak mengerti.
“Tadi onani kan?”
“Ohh.” Saya berpura-pura malu.
Perasaan saya senang bercampur gugup, menantikan reaksi Mbak Maya. Saya menghela nafas panjang. Sengaja.
“Yahh, Yeni telah tiga hari terbit kota. Pikiran saya sedang kotor. Jadi..”
“Besok lagi bila Yeni mau terbit kota, anda minta jatah dulu.”
“Ahh Mbak May ini. Susah Mbak nunggu moodnya si Yeni. Kadang pas saya lagi pengin dia telah kecapekan.”
“Tapi tersebut kan keharusan dia melayani kamu?”
“Saya tidak hendak dia mengerjakan dengan terpaksa.”
Kami sama-sama diam. Saya terus menunggu. Menunggu. Jantung saya berdegup keras.

“Kamu tidak jarang swalayan gitu?”
“Yaa tidak jarang Mbak. Kalau pengin, terus Yeni nggak mau, ya saya swalayan. Ahh udah aahh. Kok ngomongin gitu?”
Saya pura-pura hendak mengalihkan pembicaraan. Tapi Mbak Maya tidak peduli.
“Gini lho Dik. Masalahnya, tersebut tidak sehat guna perkawinan kalian. Kamu mesti berkata dengan Yeni. Masa telah punya istri masih swalayan.”
Mbak Maya memegang punggung tangan saya.
“Maaf Mbak. Nafsu saya besar. Sebaliknya dengan Yeni. Jadi kayaknya saya yang harus mengikuti situasi dia.” Kali ini saya bicara jujur. “Saya lumayan puas dapat melayani diri sendiri kok.”
“Kasihan kamu.”

Mbak Maya menyentuh ujung rambut saya, dan disibakkannya ke belakang. Saya memberanikan diri menciduk tangan itu, dan menciumnya selintas. Mbak Maya laksana kaget, dan buru-buru menariknya.
“Kapan kalian terakhir kumpul?”
“Dua atau tiga minggu lalu,” jawab saya.
Bohong besar. Mbak Maya mendesis kaget.
“Ya ampuun.”
“Mbak. Tapi Mbak tidak boleh bilang apa-apa ke Yeni. Nanti salah pengertian. Dikira saya mengadu soal begituan.”
Mbak Maya pulang menggenggam tangan saya. Erat, dan meremasnya. Isi celana saya mulai bergerak-gerak. Kali ini saya yang unik tangan saya dari cengkeraman Mbak Maya. Tapi Mbak Maya menahannya. Saya unik lagi. Bukan apa-apa. Kali ini saya fobia nanti disaksikan orang lain.
“Saya horny bila Mbak pegang terus.”
Mbak Maya tertawa kecil dan mencungkil tangan saya. Dia beranjak seraya mengucek-ucek rambut saya.
“Kaciaann ipar Mbak satu ini.”
Mbak Maya berlalu, mengarah ke ruang keluarga.
“Liat TV aja yuk,” ajaknya.
Saya memaki dalam hati. Kurang ajar betul. Dibilang saya horny justeru cengengesan, bukannya bilang, “Saya pun nih, Dik.” Setengah jengkel saya mengikutinya. Di ruang keluarga seluruh kumpul kecuali Rosi. Hanya sebentar. Saya masuk ke kamar.

Sekitar pukul 23.00 pintu kamar saya berderit. Saya menoleh. Mbak Maya. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya.
“Belum bobo?” tanyanya lirih. Jantung saya berdenyut keras.
“Belum.” Jawab saya.
“Kita ngobrol di luar yuk?”
“Di sini saja Mbak.” Saya laksana mendapat inspirasi.
“Ihh. Di teras aja. Udah ngantuk belum?”
Mbak Maya segera menghilang. Dengan melulu bersarung telanjang dada dan CD saya mengekor Mbak Maya ke teras. Saya memang terbiasa istirahat bertelanjang dada dan bersarung. Rumah sudah senyap. TV sudah dimatikan. Keluarga ini memang terbiasa istirahat sebelum jam 22.00. Hanya aku yang kerasan melek.

Mbak Maya mengenakan daster tanpa lengan. Ujung atas melulu berupa seutas tali tipis. Daster kuning yang agak ketat. Saya sekarang memperhatikan betul lekuk tubuh wanita yang berlangsung di depan saya itu. Pantat menonjol. Singset. Kulitnya sangat putih salah satu semua sadaranya. Umurnya berselisih tiga tahun dengan Yeni.
Mbak Maya duduk di bangku teras yang gelap. Bangku ini dulu tidak jarang saya pakai bercumbu dengan Yeni. Wajah Mbak Maya melulu terlihat samar-samar oleh cahaya lampu TL 10 watt kepunyaan tetangga sebelah. Itupun terhalang oleh daun-daun angsana yang rimbun.

Dia memberi tempat untuk saya. Kami duduk nyaris berhimpitan. Saya memang sengaja. Ketika dia mengupayakan menggeser tidak banyak menjauh, perlahan-lahan saya mendekakan diri.
“Dik Andy” Mbak Maya membuka percakapan.
“Nasib kamu tersebut sebenernya tak jauh lain dengan Mbak.”
Saya mengernyitkan dahi. Menunggu Mbak Maya menjelaskan. Tapi perempuan tersebut diam saja. tangannya memilin-milin ujung rambut.
“Maksud Mbak apa sih?”
“Tidak bahagia dalam urusan lokasi tidur. Ih. Gimana sih.”
Mbak Maya mencubit paha saya. Saya mengaduh. Memang sakit, Tapi saya senang. Perlahan-lahan penis saya bergerak.
“Kok bisa?”
“Nggak tahu tuh. Mas Wib tersebut loyo abis.”
“Impoten?” Saya agak kaget.
“Ya enggak sih. Tapi sulit diajakin. Banyak nolaknya. Malas saya. Perempuan kok dibegituin,”
“Hihihi.. Tadi kok kasih nasihat ke saya?”
Saya tersenyum kecil. Mbak Maya mengupayakan mendaratkan lagi cubitannya. Tapi saya lebih sigap. Saya tangkap tangan itu, dan saya amankan dalam genggaman. Saya mulai berani. Saya remas tangan Mbak Maya. Penis saya terasa menegang. Badan mulai panas dingin. Mungkinkan malam ini saya dan Mbak Maya..

“Terus teknik pelampiasan Mbak gimana? Swalayan juga?” Tanya saya.
Saya taruh sebelah tangan di atas pahanya. Mbak Maya mengupayakan menghindar, namun tak jadi.
“Enggak dong. Malu. Risih. Ya disangga aja.”
“Kapan terakhir Mbak Maya istirahat sama Mas Wib?”
Saya menghirup punggung tangan Mbak Maya. Lalu tangan tersebut saya taruh perlahan-lahan salah satu pahaku, tidak banyak menyentuh penis.
“Dua minggu lalu.”
“Heh?” Saya menatap matanya. Bener enggak sih. Kok jawabannya sama dengan saya? Ngeledek apa gimana nih.
“Bener.” Matanya mengerling ke bawah, menyaksikan sesuatu di sekitar tangannya yang kugenggam.
“Mbak..” Saya merangkai kekuatan guna berbicara. Tenggorokan terasa kering. Nafsu saya mulai naik. Perempuan ini bener-bener laksana merpati. Jangan-jangan melulu jinak saat didekati. Saat dipegang dia kabur.

“Hm,” Mbak Maya menatap mata saya.
“Mbak pengin?”
Dia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Saya raih pundaknya. Saya elus rambutnya. Saya sentuh pipinya. Dia diam saja. Sejurus lantas mulut kami berpagutan. Lama. Ciuman yang bergairah. Saya remas unsur dadanya. Lalu tali sebelah dasternya saya tarik dan terlepas. Mbak Maya merintih saat jari saya menyentuh belahan dadanya. Secara spontan tangan kirinya yang semenjak tadi di pangkuan saya menggapai apa saja. Dan yang tertangkap ialah penis. Dia meremasnya. Saya menggesek-gesekkan jari saya di dadanya. Kami pulang berciuman.
“Di kamar aja yuk Mbak?” ajak saya.
Lalu kami beranjak. Setengah berjingkat-jingkat mengarah ke kamar Mbak Maya. Kamar ini terletak bersebarangan dengan kamar saya. Di sebelah kamar Mbak Maya ialah kamar mertua saya.

Malam tersebut tumpahlah segalanya. Kami bermain dengan hebatnya. Berkali-kali. Ini ialah perselingkuhan saya yang kesatu semenjak saya kawin. Belakangan saya tahu, tersebut juga perselingkuhan kesatu Mbak Maya. Sebelum tersebut tak terbetik benak untuk selingkuh, lagipula tidur dengan laki-laki beda di samping Mas Wib.

Bermacam gaya kami lakukan. Termasuk oral, dan suatu sedotan powerful menjelang saya orgasme. Semprotan mani menerjang tenggorokan Mbak Maya. Itulah kesatu kali mani saya diminum perempuan. Yeni juga tidak pernah. Tidak mau. Jijik katanya. Menjelang pagi, ketika tulang kami laksana dilolosi, saya pulang ke kamar. Tidur.

Saya tidak berani mengulanginya lagi. Perasaan menyesal tumpah-ruah saat saya bertemu istri saya. Mungkin tersebut juga yang dialami Mbak Maya. Selepas tersebut dia mengupayakan menghindari percakapan yang menjurus ke lokasi tidur. Kami bersikap biasa-biasa, seolah tidak pernah terjadi apa pun.

Ketika istirahat di samping istri saya, saya berjanji dalam hati Tidak bakal selingkuh lagi. Ternyata janji bermukim janji. Nafsu besar lebih mengusik saya. Terutama ketika istri saya ke luar kota dan kemauan bersetubuh mendesak-desak dalam diri saya. Rasanya hendak mengulanginya dengan Mbak Maya. Tapi tampaknya mustahil. Mbak Maya benar-benar tidak memberi kesempatan untuk saya. Dia bukan lagi mau masuk kamar saya. Jika ada butuh di mengajak Rosi, atau berteriak di luar kamar, memanggil saya. Bahkan mulai jarang menginap.

Akhirnya saya pulang ke sasaran mula saya. Rosi. Mungkinkah saya menyetubuhi adik istri saya? Uhh. Mustahil. Kalau hamil? Beda dengan Mbak Maya. Kepada dia saya tidak ragu guna mengeluarkan embrio saya ke dalam rahimnya. Kalaupun hamil, tak masalah kan. Paling-paling bila anaknya bermunculan dan serupa dengan saya yaa tidak sedikit cara guna menepis tuduhan. Lagian masak sih pada curiga?

Tamat

Video bokep Indonesia

About operator

Check Also

cerita-dewasa-ngentot-cewek-binal-berkali-kali

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri,, Senin, Rabu dan Jumat ialah jadwalku melatih …