Home / CERITA SEX / Ngentot Dengan Anak Majikan Sendiri
agen togel

Ngentot Dengan Anak Majikan Sendiri

Namaku Anton (bukan nama sebenarnya), aku bekerja sebagai sopir sekaligus tukang kebun dikeluarga yang termasuk kaya raya, kerjaku tergolong gampang yaitu mengantar putri tunggal mereka, Meiling si anak majikan, ke sekolah.

Meiling si anak majikan mempunyai wajah yang cantik, agak nakal, genit dan galak, ia memiliki dua orang rekan akrab yang satu mempunyai nama Nia, ia bertubuh langsing dan pemalu dan yang satunya mempunyai nama Tarida yang sifatnya periang dan suka bercanda

Mereka pun cantik-cantik, putih dan mulus. Tadinya aku bersikap acuh terhadap pekerjaan mereka bertiga tetapi lama kelamaan aku menjadi penasaran apa saja yang mereka bertiga kerjakan di halaman belakang yang dengan kerasnya dilarang ditembus olehku, rasa penasaran masing-masing hari semakin membesar dan aku berniat mengintip apa saja yang mereka bertiga lakukan.

Pada Tanggal 2 Februari Nia dan Tarida bermain kerumah dan seperti seringkali mereka bermain dihalaman belakang rumah. Dengan hati-hati aku membuka pintu mengarah ke halaman belakang dan menyaksikan sesuatu yang menggetarkan kalbu. Bagaikan tersambar petir disiang hari aku menyaksikan Meiling si anak majikan, Nia dan Tarida sedang asik saling meraba dan berciuman satu sama lain, pakaian renang melekat ditubuh mereka.

Otakku langsung menyala membara dengan nafsu yang bergejolak, rupanya ini yang tidak jarang kali disembunyikan oleh mereka bertiga, entah telah berapa lama mereka berdua menyimpan rahasia besar dihadapanku, namun disaksikan dari teknik mereka berciuman dan meraba kelihatannya masih amatiran, benak kotorku langsung bekerja.

“Ehmmmm-ehem!” dengan sengaja aku hadir dan mengagetkan mereka bertiga. “Awwww!!” ketiganya paling terkejut, “Mang Anton ngapain sihhhh… kan udah dibilang ngak boleh masuk!” Meiling terlihat kesal dan cemberut. “Gimana non enak yahhhh???”Aku dengan santai mendekat mereka.

Meiling kelihatannya akan membentakku lagi tetapi Tarida tiba-tiba unik Meiling dan berbisik sesuatu ditelinga Meiling, “ihhhhhh ngakkk ahhh…” Meiling kelihatannya keberatan entah apa yang dibisikkan ditelinganya. Tarida berbisik sesuatu lagi ditelinga Meiling. Kemarahan Meiling tiba-tiba laksana menghilang sekarang ia memandangiku dengan tatapan yang nakal.

“Iya juga…. Hmmmm” Meiling si anak majikan laksana menimbang-nimbang sesuatu, lantas ia mengangguk pada Tarida yang tersenyum dengan ceria. Tarida menghampiriku dan lantas ia berbicara “Karena mang Anton telah mengintip maka mang Anton mesti dihukum…” Tarida terkekeh-kekeh. “Dihukumm ?” Aku bertanya tidak mengerti. “Iya.. mulai kini Mang Anton mesti inginkan jadi boneka.. bikin kami…”jawab Meiling.

Aku memandang tidak memahami namun dengan memberanikan diri Tarida menyatakan kepadaku mengenai keingintahuan mereka terhadap anatomi laki-laki, sekata demi sekata dibacakan dengan terbata-bata. ali ini Aku dan tiga gadis Chinese berada diruangan keluarga, “Cuppp…. Cupp Cuppp”aku sedang asik menciumi Tarida, mereka bertiga masih berpakaian menyeluruh duduk dihadapanku, sementara aku bersujud dibawah kaki mereka.

Tarida menggelinjang dan mengerang lirih saat ciumanku semakin turun kebawah dan mengendus-ngendus pun mengigit-gigit kecil unsur dadanya ang masih apik terbungkus seragam sekolahnya, lidahku menyelinap binal dari sela-sela seragam sekolah Tarida . “hmmm errrhh… Tarida semakin legit deh..”Aku memujinya.

“Legitt ? emangnya ketan… he he he”Tarida terkekeh-kekeh, tangannya mengelus kepalaku yang masih asik menggeluti unsur dada Tarida dengan lembut. “Meiling… titit mang Anton berdiri tuhhh…. Kasiann sendirian berdirinya kayak lagi nunggu Angkot”Tarida tersenyum genit. Meiling si anak majikan cekikikan sementara Nia tertunduk malu dan pura-pura tidak menyaksikan kemaluanku.

Aku berdiri dihadapan Tiga Gadis Chinese, tanpa mesti diperintah Tarida yang berada ditengah langsung menjilati kepala kemaluanku, Meiling dan Nina menciumi batang kemaluanku, Batang kemaluanku laksana piala bergilir , sebentar ditarik oleh Tarida, sebentar lantas sudah ditarik kekanan Oleh Meiling dan sebentar lagi ditarik kekiri dibelai-belai oleh Nia,

Sambil menciumi dan menjilati Kemaluanku ketiga Gadis Chinese sesekali berkelakar , tawa mereka berderai merdu, semakin lama nafsuku semakin naik keubun-ubun, aku pulang bersujud dihadapan ketiga Chinese , kudorong bahu Meiling supaya ia bersandar kebelakang, Tanganku sekarang menyibakkan rok seragam Meiling sampai-sampai pahanya yang kuning langsat sekarang terpampang dihadapanku.

Aku memandangi wajah Meiling, aku berjuang menarik turun celana dalam putihnya, Meiling si anak majikan melulu tertawa lepas seraya menepiskan kedua tanganku. “Mau ngapain hayooo… he he he” Tarida tertawa , suaranya tersiar begitu merdu dan menggoda.

“Ngak boleh ahhh… Sono gih berobah dulu jadi siBleki…..Ayo menggongong….” Meiling menyuruhku. Terus cerah aku tidak jarang tersinggung dengan permintaan Meiling yang aneh-aneh dan berulang kali menyakiti perasaanku sebagai laki-laki, tetapi demi sedikit kesenangan aku darurat mengorbankan harga diriku.

Dengan menyangga rasa sakit hati aku berjuang mengikuti permintaannya , aku merangkak dan menggongong “Guk… Gukkkk Grrrhh…..”Aku menggeram-geram dan menggongong layaknya seekor Anjing, Meiling tertawa terbahak-bahak , Sedangkan kedua Chinese Lainnya terlihat prihatin dengan keadaanku.

”Heh… sini… jilati nih!!!” Meiling memerintahku Sambil merangkak aku mendekat kaki Meiling aku menciumi dan menjilati betisnya , jilatanku terus naik-naik dan naik , Meiling mengangkangkan kedua kakinya seolah – olah memberi jalan bagiku. Tanpa membuang tidak sedikit waktu aku mengendus-ngendus selangkangan Meiling.

“Good Boyyy…. “tangan Meiling si anak majikan menepuk-nepuk kepalaku, kedua kakinya naik kebahuku namun lantas dengan kasar menendang bahuku sampai-sampai aku terjengkang “Aduh…” Aku terjengkang kebelakang, aku semakin geram dengan perlakuan Meiling yang semena-mena . “Meiling tidak boleh gitu donggg kan kasihan Mang Anton….” Nia membelaku.

“Iya ihhh… koqq anda tega… sihhh…” Tarida pun ikut membelaku, Tarida dan Nia memang baik hati bertolak belakang sekali dengan Meiling, Gadis Chinese yang satu ini memang bandel, genit, nakal, dan galak. “Biar aja!!!! ” Meiling mendengus kesal lantas ia duduk bersandar disofa. Tarida dan Nia membantuku berdiri “Mang Anton ngak apa-apa kan ?” Nia bertanya dengan lembut.

“Jangan dimasukkan dihati mang, Meiling memang seperti tersebut orangnya…. Nanti aku kasih yang lebih asik yah…” Tarida berbisik ditelingaku. Aku menelan ludahku saat Tarida menyuruhku supaya menelanjanginya, tetapi aku ragu, aku melulu berdiri mematung menatap mata Tarida.

“Waduhhh tititnya Mang Anton Koqq kempes kayak balon panjang aja….. kena paku ya mang….? Kudu ditambal donggg agar he he he he” Tarida mengodaku, terus cerah aku masih geram dengan perlakuan Meiling si anak majikan sampai-sampai nafsu seksku turun. Tarida meraih tanganku dan menempatkan tanganku pada buah dadanya

“Terserah mang Anton inginkan ngapain…..” Tarida memandangiku dengan tatapan matanya yang menggoda, aku laksana api yang nyaris padam terpapar guyuran minyak , kedua tanganku sekarang meremas-remas buah dada Tarida, aku mengembalikan tubuh Tarida dan memeluknya dari belakang

” Tarida… “aku meremas-remas kedua dada Tarida, sambil mengerjakan remasan-remasan tanganku mencungkil kancing baju seragam Tarida, sesudah selesai mencungkil pakaian seragam Tarida , aku mencungkil pengait bra dan lantas kuloloskan bra putih Tarida.

Kedua tanganku sekarang mengusap-ngusap dan meremas lembut buah dada unsur bawah yang paling halus dan lembut.. Aku melirik Nia, hatiku merasa tersentuh sebab Nia yang baik seperti keadaan bingung , aku unik tangannya dan pun membalikkan tubuhnya lantas melepaskan pakaian seragam sekolah Nia dan pun Bra warna pink yang dikenakannya.

“Ihhhhhh mang Anton serakah amattt he he he Hmm Mmmmm” Tarida berkomentar, tetapi mulutnya kusekap dengan bibirku. Tanganku yang satu bergerilya meremas-remas buah dada Nia sementara yang satunya asik meremas-remas buah dada Tarida.

Tarida unik wajahnya sampai-sampai ciumanku terlepas, kedua tangannya sekarang menarik kepala kemaluanku, diselipkannya kepala kemaluanku pada sela-sela pantatnya yang hangat, lantas Tarida menggoyang-goyangkan pantatnya.

“Uhhhh… belajar dari mana Non ? ” Aku bertanya pada Tarida. Tarida tidak menjawabku ia melulu tersenyum, kadang-kadang aku meringis kegelian sebab himpitan buah pantat Tarida. “Mang Anton sendiri belajar dari mana ?” Tarida justeru balik bertanya padaku.

Lima belas tahun yang kemudian “Diam kau gadis tengik…..ha ha ha” Aku menodongkan pisau pada seorang gadis cantik, si cantik ketakutan, tanganku bergerak menjamahi buah dadanya dan kemudian.. “Jangan Bang ampunnn….”Sicantik memelas memohon kepadaku saat aku meremas-remas buah dadanya, airmata mulai meleleh dari matanya yang indah

“Brak…… hajar…. Siram!!!! Bakar…”Aku dikejutkan saat pintu tiba-tiba didobrak dari luar , segerombolan orang menyerbu masuk, mereka menghajarku, menyeretku kesuatu tempat, sejumlah temanku telah banjir darah babak-belur dihajar massa .

Seseorang mengguyurku dengan bensin…. Dan… “Lohhh….ditanya koq takjub sih mang ? “suara Tarida tiba-tiba menyadarkan lamunanku. Aku mengecup bibir Tarida, Nia menggeliat mencungkil tubuhnya dari pelukanku, lantas Nia bersujud dihadapan Tarida dan…

“Uchhhh Niaaa….. enakk…”tubuh Tarida menggelepar hebat saat Nia menjilati bibir Vagina Tarida. Kedua tanganku mencengkram pinggul Tarida lantas aku menekan-nekankan kemaluanku dengan lembut, tubuh Tarida bergerak terdorong perlahan kadang-kadang ia terdorong dengan kuat saat aku mengerjakan tekanan yang powerful pada belahan pantatnya.

Serangan Nia dan seranganku menciptakan Tarida meringis-ringis dan “Aaaa Ahh… Crrrr” tubuh Tarida mengeliat estetis dan terkulai lemas dalam pelukanku, sesudah menciuminya dengan lembut Aku mencungkil Tarida. Aku tidak dapat menyangga nafsuku saat melihat Nia yang masih asik menjilati vagina Tarida,

Aku mengusung tubuh Nia, kudorong tubuhnya supaya berpelukan dengan Tarida dan mereka berciuman dengan lembut. Aku bersujud dihadapan buah pantat Nia, tanganku meremas-remas buah pantatnya yang padat dan kencang lantas lidahku terjulur memoles-moles sela-sela pantat Nia, Nia menggoyang-goyangkan pantatnya , rupanya dia kegelian.

Aku mengurangi buah pantat Nia dan lantas lidahku menggeliat-geliat, lidahku semakin powerful menggeliat kedalam anus Nia. “Auhhhh…. Mang Antoni….” Nia unik pantatnya dan menepiskan tanganku yang mencengkram pinggulnya. “Ehhhh mengapa ?” Tarida bertanya sebab tiba-tiba ciumannya yang lagi hot-hotnya dengan Nia jadi terganggu.

“Lidah mang Anton… Euh.. “ Nia tidak melanjutkan kata-katanya, wajahnya merah padam. Aku merangkak dan mendekat Nia, lidahku terjulur menjilati Vagina Nia, tubuh Nia bergetar hebat, rintihan-rintihan Nia. Membuatku hendak melakukan kegiatan yang lebih mengasikkan “Non.. bila dicelup gimana…? Mau ?” Aku bertanya pada Nia. Nia memandangiku tidak mengerti.

“Maksud mang Anton……….” Nia tidak melanjutkan kata-katanya kelihatannya dia baru tersadar maksudku. “Tapi… aku masih perawan manggg..” Nia terlihat keberatan. “Ya ngak masalah… kan Cuma maen diluar aja…. Tapi nikmatnya wahhhh… 1000 x lebih nikmat ketimbang dijilat…..”kataku ambil mengusap-ngusap kedua pahanya, tanpa menantikan jawabannya aku menidurkan Nia diatas permadani bermotif bunga matahari .

“Tapi…. Mang Anton yakin… ngak bakal sampai itu…” Nia menggeser pantatnya saat aku mengupayakan menggesekkan kepala kemaluanku menjilati Bagian bibir vaginanya .”Saya yakin Non… keperawanan letaknya kan didalam… jadi kalo sekedar kepala kemaluan sih masih aman-aman saja koqq”Aku membalas keraguannya.

“Hmmm berarti.. beneran yah yang terdapat dibuku latihan biologi….” Tarida memandangiku, aku melulu tersenyum sambil menciduk kedua kaki Nia. Nafas Nia terdengar paling berat saat aku mulai menggesek-gesekkan kepala kemaluanku pada gundukan mungilnya. “Hmmhh… “pinggangnya melenting keatas saat aku berjuang mencelupkan kepala kemaluanku pada belahan diantara bibir Vaginanya.

Aku mengurangi berkali-kali berjuang memelarkan bibir Vagina yang masih peret akhirnya mengurangi sekali lagi kali ini dengan disertai sentakan yang powerful dan “Crebbbb Slepppsss” kepala kemaluanku laksana melesat dan diapit oleh bibir Vagina Nia. “Akssssshhhh….. ” Nia terkejut dan mulutnya terbuka laksana huruf O, tubuhnya melenting-lenting berjuang melepaskan diri tetapi aku mencengkram pinggulnya kuat-kuat.

“Hahhhhh gilaaa… Nia.. Mang Anton aduhhhh….!!!” Tarida terkejut, sedangkan nafas Nia yang awalnya tersenggal-senggal sekarang mulai dapat menata nafasnya , keringat – keringat badung mulai mengairi tubuhnya yang putih dan mulus. Tangan kirinya meraba-raba gundukan Vaginanya , matanya mulai berair “Mang Anton… Hhhh… Hhhhhh” Nia agak terisak, aku kebingungan, Nia menyatakan sambil terisak rupanya ia fobia keperawanannya terrengut olehku.

”Tenang…kan ngak ngerasain sakit…itu dengan kata lain keperawanan masih aman…”Aku menyatakan padanya, sesudah kujelaskan secara mendetail dan teliti Nia berhenti terisak-isak. Aku memegang Batang kemaluanku, sesekali kugerakkan kemaluanku berputar dan sesekali kugoyangkan ke kanan dan ke kini, Bibir Vagina Nia yang masih mengemut kepala kemaluanku pun ikut monyong keana kemari mengekor gerakanku.

Mata Nia terpejam-pejam, bibirnya mendesah-desah saat aku menggoyang kepala kemaluanku kekiri dan kekanan. “Achhhh… Unghh……..Crrrrrrttt ” Nia melenguh panjang, tubuhnya menggeliat dalam gerakan yang luar biasa dan gemulai, keringat badung tambah tidak sedikit dan sekarang menetes deras mengairi tubuhnya yang menggairahkan.

“Aku mangg….” Tarida berbaring disisi Nia dan ia mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar. Aku meneduhi tubuhnya dan menciumi buah dada Tarida, aku senang banget sama Dada Tarida sebab dadanya lebih gede dikomparasikan kedua temannya, ciumanku merambat turun, turun dan turun hingga hinggap digundukan mungil diantara selangkangannya, lidahku menggeliat-geliat binal , menyelinap diantara belahan bibir vagina Tarida,

Tarida menekan-nekan kepalaku seraya sesekali mengusung-angkat pinggulnya. Aku mulai memungut posisi, kutempelkan kepala kemaluanku pada Bibir Vaginanya, terus aku mulai mencongkel-congkel hingga Tarida mendesis-desis dan mengerang panjang.

“Manggg…..” Tarida unik pinggulnya seraya menutupi unsur Vaginanya dengan kedua belah tangannya, ia unik pinggulnya kebelakang saat kepala kemaluanku mulai mendesak bibir vaginanya rupanya ia ragu-ragu. Aku menyingkirkan kedua tangan Tarida, dan sekali lagi pulang kutempelkan kepala kemaluanku pada bibir Vaginanya, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku kemudian ku tekan kepala kemaluanku perlahan-lahan dan

“Akhhhhhh Mangg…!!! ” Tarida menjerit kaget saat kepala kemaluanku melesat masuk, Tarida terkulai lemas, nafasnya mengejar kencang, sesekali ia mengerang keras saat aku menggoyang kepala kemaluanku dengan liar.

“Owww rrcckkk Crrrrr” Tarida memejamkan matanya rapat-rapat menikmati kesenangan yang datang menerpanya. Meiling si anak majikan menghampiriku tetapi aku tidak mempedulikannya , aku malahan asik memainkan buah dada Nia yang sekarang kembali mendesah-desah, seraya mendengus kesal Meiling meninggalkan kami bertiga.

“Sudah- sudah…. Sudah sore…..udah inginkan hujan…..” Meiling cemberut, Nia dan Tarida terkekeh-kekeh lantas mereka berdua menampik keinginanku guna melanjutkan permainan lebih lama lagi, aku lantas mengantarkan Nia dan Tarida pulang. TAMAT

Video bokep Indonesia

About operator

Check Also

cerita-dewasa-ngentot-cewek-binal-berkali-kali

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri,, Senin, Rabu dan Jumat ialah jadwalku melatih …