Home / Barat / Cerita Sex 17 Tahun Diajarkan Ngentot Ama Guru Agamaku
agen togel

Cerita Sex 17 Tahun Diajarkan Ngentot Ama Guru Agamaku

Ketika aku menikah dua tahun yang lalu, rasanya dunia ini melulu* milikku seorang. Betapa tidak, aku menemukan* seorang lelaki* yang menjadi khayalan* semua gadis di semua* kampungku. Aku menjadi istri seorang pejabat di kota yang kaya raya.

Bayangkan saja, suamiku mempunyai* puluhan hektar tanah di kampungku, belum ruko-ruko yang dikontrakan. Tidak melulu* di wilayah* kampungku namun* ada pun* di daerah-daerah lainnya. Sudah terbayang di benakku, masing-masing* hari aku bermukim* di lokasi* tinggal* besar dan mewah (paling tidak* guna* ukuran di kampungku), naik mobil bagus keluaran terbaru.

Hari-hariku sebagai istrinya memang membahagiakan dan membanggakan. Teman-teman gadisku tidak sedikit* yang iri dengan kehidupanku yang serba enak. Meski aku sendiri tidak yakin dengan kebahagian yang kurasakan ketika* itu. Hati kecilku sering diisi* oleh kekhawatiran yang sewaktu-waktu akan menciptakan* hidupku jatuh merana. Aku sebetulnya* bukanlah satu-satunya perempuan* pendamping suamiku. Ia telah* beristri dengan sejumlah* anak. Mereka bermukim* jauh di kota besar dan sama sekali tak pernah tahu bakal* keberadaanku sebagai madunya.

Ketika menikah juga* aku telah* tahu bakal* statusnya ini. Aku, entah darurat* atau memang mencintainya, menyimpulkan* untuk menikah dengannya. Demikian pula dengan orang tuaku. Mereka justeru* sangat menginginkan* aku menjadi istrinya. Mungkin mereka menginginkan* kehidupan kami bakal* berubah, derajat kami bertambah* dan di anggap* oleh seluruh* orang dusun* bila aku telah* menjadi istrinya. Mungkin memang telah* nasibku guna* menjadi istri kedua, lagi pula hidupku lumayan* bahagia dengan statusku ini.

Semua tersebut* kurasakan satu tahun* yang lalu. Begitu memasuki* tahun kedua, barulah aku menikmati* perubahan. Suamiku yang dulunya lebih tidak jarang* berada di sisiku, sekarang* mulai jarang hadir* di rumah. Pertama seminggu sekali ia mengunjungiku, lantas* sebulan dan terakhir aku telah* tak menghitung lagi entah berapa bulan sekali dia datang kepadaku guna* melepas rindu.

Aku tak berani menghubunginya. Aku fobia* semua tersebut* malah akan menciptakan* hidupku lebih merana. Aku tak dapat* membayangkan bila** istri kesatu*nya tahu keberadaanku. Tentunya bakal* marah besar dan mengadukanku ke pihak berwajib. Biarlah aku tanggung seluruh* derita ini. Aku tak hendak* orang tuaku terbawa sengsara oleh masalah kami. Mereka telah* hidup bahagia, mempunyai* rumah yang lebih besar, sawah dan ternak-ternak piaraan pemberian suamiku.

Hari hari yang kulalui semakin tidak menggairahkan. Aku berjuang* untuk menyibukan diri dengan sekian banyak * kerjaan supaya* tak merasa jenuh* ditinggal suami dalam masa-masa* lama. Tetapi semua tersebut* tidak menciptakan* perasaanku tenang. Justru menjadi gelisah, khususnya* di malam hari.

Aku tidak jarang* kali* termenung sendiri di ranjang hingga* larut malam menantikan* kantuk yang tak kunjung datang. Kurasakan sprei lokasi* tidurku begitu dingin, tidak laksana* di hari-hari mula* pernikahan kami dulu. Sprei lokasi* tidurku tak pernah rapi, tidak jarang* kali* acak-acakan dan hangat bekas pergulatan tubuh kami yang tidak jarang* kali* berkeringat.

Di saat-saat laksana* inilah aku selalu menikmati* kesedihan yang mendalam, gelisah menginginkan* kehangatan laksana* dulu. Rindu bakal* cumbuan hangat suamiku yang kelihatannya* tak pernah padam walau* usianya telah* mulai menua.

Kalau telah* terbayang seluruh* itu, aku menjadi semakin gelisah. Gelisah oleh perasaanku yang menggebu-gebu. Bahkan akhir-akhir ini semakin menciptakan* kepalaku pusing. Membuatku uring-uringan. Marah oleh sesuatu yang aku sendiri tak mengerti. Kegelisahan ini tidak jarang* terbawa dalam impianku.

Di luar sadarku, aku sering menginginkan* cumbuan hangat suamiku. Bagaimana panasnya kecupan bibir suamiku di sekujur tubuhku. Aku menggelinjang masing-masing* kali terpapar* sentuhan bibirnya, bergetar menikmati* sentuhan lembut jemari tangannya di unsur* tertentu tubuhku.

Aku tak dapat* menahan diri. Akhirnya aku mencumbui diriku sendiri. Tangannku menggerayang ke semua* tubuhku sambil menginginkan* semua tersebut* milik suamiku. Pinggulku berputar binal* mengimbangi gerakan jemari di dekat* pangkal pahaku.

Pantatku terangkat tinggi-tinggi menyambut tekanan* benda imajinasiku ke dalam diriku. Aku melenguh dan mengerang* kenikmatan sampai* akhirnya terkulai lemas di ranjang pulang* ke alam sadar bahwa semua tersebut* merupakan kesenangan* semu. Air mataku jatuh bercucuran, meratapi nasibku yang tidak beruntung.

Pelarianku tersebut* menjadi kelaziman* setiap menjelang tidur. Menjadi semacam keharusan. Aku ketagihan. Sulit menghilangkan kelaziman* yang telah* menjadi keperluan* bathinku. Aku tak tahu hingga* kapan seluruh* ini bakal* berakhir. Aku telah* bosan. Kecewa, marah, kecil hati* dan entah lagipula* yang terdapat* dalam perasaanku ketika* ini. Kepada siapa aku me*sti melampiaskan seluruh* ini? Suamiku? Entah kapan ia datang lagi. Kepada orang tua? Apa yang dapat* mereka perbuat? Oohh.. aku hanya dapat* menangisi penderitaan ini.

Aku memang gadis dusun* yang tak tahu keadaan. Aku tak pernah sadar bahwa keadaanku sehari-hari unik* perhatian seseorang. Aku baru tahu lantas* bahwa ternyata Kang Hendi, suami kakakku, mengekor* perkembanganku sehari-hari. Mereka memang bermukim* di rumahku. Aku sengaja menyuruh* mereka bermukim* bersama, sebab* rumahku lumayan* besar guna* menampung mereka bareng* anak tunggalnya yang masih balita. Sekalian menemaniku yang hidup seorang diri.

“Kasihan Neng Anna, temenin aja. Biar lokasi* tinggal* kalian yang di sana dikontrakan saja” demikian saran orang tuaku masa-masa* itu.

Aku juga* tak keberatan. Akhirnya mereka bermukim* bersamaku. Semuanya berlangsung* normal saja. Tak terdapat* permasalahan salah satu* kami semua, sampai sebuah* malam saat* aku sedang mengerjakan* hal ‘rutin’ terperanjat separuh* mati ketika* kusadari ternyata aku tidak sedang memiliki* mimpi* bercumbu dengan suamiku.

Sebelum sadar, aku merasakan kesenangan* yang spektakuler* sekali. Terasa beda* dengan khayalanku sekitar* ini. Apalagi saat* puting payudaraku dijilat dan dihisap-hisap dengan sarat* gairah. Aku sampai merintih* saking nikmatnya. Rangsangan tersebut* semakin meningkat* hebat menguasai diriku.

Kecupan tersebut* semakin menggila, bergerak perlahan mencari* perutku terus ke bawah mengarah ke* lembah yang ditumbuhi semak-semak lebat di dekat* selangkanganku. Aku nyaris* berteriak saking menikmatinya. Ini adalah*sesuatu yang baru, yang tak pernah dilaksanakan* oleh suamiku. Bahkan dalam mimpipun, aku tak pernah menginginkan* sampai sejauh itu.

Di situlah aku baru tersadar. Terbangun dari mimipiku yang indah. Kubuka mataku dan melirik ke bawah tubuhku untuk memahami* apa yang sebetulnya* terjadi. Mataku yang masih belum terbiasa dengan suasana* gelap ruangan kamar, menyaksikan* sesuatu bergerak-gerak di bawah sana, salah satu* kedua pahaku yang tersingkap* lebar.

“Aduh mengapa* sih ini..” gumamku separuh* sadar seraya* menjulurkan tanganku ke bawah sana.

Tanganku memegang sesuatu laksana* rambut. Kuraba-raba dan baru kutahu bahwa itu ialah* kepala seseorang. Aku kaget. Dengan refleks aku bangun dan merapat ke ujung ranjang seraya* mencoba menyaksikan* apa terjadi. Setelah mataku terbiasa dengan kegelapan, kulihat di sana ternyata seseorang tengah merayap ke atas ranjang. Aku semakin kaget begitu kutahu orang itu ialah* Kang Hendi, kakak iparku!

Saking kagetnya, aku berteriak sekuat tenaga. Tetapi aku tak mendengar suara teriakan itu. Kerongkonganku serasa tersekat. Hanya mulutku saja yang terbuka, menganga lebar-lebar. Kedua mataku melotot seakan tak percaya apa yang kulihat di hadapanku ialah* Kang Hendi yang bertelanjang dengan melulu* memakai cawat.

Kang Hendi mendekat* sambil mengisyaratkan supaya* jangan berteriak. Tubuhku semakin mepet ke ujung dinding. Takut, marah dan beda* sebagainya bercampur aduk dalam dihatiku menyaksikan* kehadirannya di kamarku dalam suasana* setengah telanjang laksana* itu.

“Kang! Lagi apa..?” melulu* itu yang terbit* dari mulutku sedangkan* tanganku sibuk berbenah* pakaianku yang telah* tak karuan.

Aku baru sadar ternyata semua* kancing baju tidurku semuanya terlepas dan unsur* bawahnya telah* terangkat hingga* ke pinggang. Untungnya saja celana dalamku masih terpakai rapi, melulu* dadaku saja yang telanjang. Aku buru-buru menutupi ketelanjangan dadaku sebab* kulihat mata Kang Hendi yang binal* nampaknya tak pernah berkedip menatap ke arah sana.

Saking takutnya aku tak dapat* ngomong apa-apa dan melulu* melongo menyaksikan* Kang Hendi semakin mendekat. Ia kemudian* duduk di bibir ranjang seraya* meraih tanganku dan membisikan ucapan-ucapan* rayuan bahwa aku ini cantik namun tidak cukup* beruntung dalam perkawinannya. Dadaku serasa inginkan* meledak mendengar ucapannya.

Apa hak dia untuk menuliskan** semua itu? Aku tak perlu* dengan belas kasihannya. Kalau saja aku tidak ingat bakal* istrinya, yang adalah*kakakku sendiri. Sudah kutampar mulut lancangnya itu. Apalagi ia telah* berani-berani masuk ke dalam kamarku malam-malam begini.

Teringat tersebut* aku langsung bertanya, “Kemana Teh Mirna?”.
“Ssst, tenang ia lagi di lokasi* tinggal* yang di sana” kata Kang Hendi dengan tenang seolah tidak bersalah.

Kurang ajar, runtukku dalam hati. Pantesan berani masuk ke kamar. Tapi kok Teh Mirna nggak ngomong-ngomong sebelumnya.

“Kok dia nggak bilang-bilang inginkan* pulang” Tanyaku heran.
“Tadinya inginkan* ngomong. Tapi Kang Hendi bilang nggak usah kasihan Neng Anna telah* tidur, biar nanti Akang saja yang bilangin” jelasnya.

Dasar laki-laki tidak cukup* ajar. Istrinya didustai* biar dia bebas masuk kamarku. Aku semakin marah. Pertama ia sudah tidak cukup* ajar masuk kamarku, kedua ia berani mengkhianati istrinya yang pun* kakak kandungku sendiri!

“Akang sadar saya ini adikmu juga. Akang inginkan* ngapain kemari.. Cuma.. ngh.. pake gituan aja” kataku sambil* melirik Kang Hendi sekilas. Aku tak berani lama-lama sebab* takut menyaksikan* tatapannya.

“Neng..” panggilnya dengan suara parau.
“Akang kasihan lihat Neng Anna. Akhir-akhir ini sepertinya* semakin menderita saja” ucapnya kemudian.
“Akang tahu dari mana saya menderita” sergahku dengan mata mendelik.

“Eh.. tidak boleh* marah ya. Itu.. nggh.. Akang.. anu..” katanya dengan ragu-ragu.
“Ada apa kang?” tanyaku semakin penasaran seraya* menatap wajahnya lekat-lekat.
“Anu.. eh, Akang lihat anda* selalu kesepian. Lama ditinggal suami, jadi Akang hendak* Bantu kamu” katanya tanpa malu-malu.

“Maksud Akang?”
“Ini.. Akang, maaf neng.., pernah lihat Neng Anna bila** lagi istirahat* suka..” ungkapnya setengah-setengah.
“Jadi Akang suka ngintip saya?” tanyaku semakin sewot.

Kulihat ia mengangguk lemah untuk lantas* menatapku dengan sarat* gairah.

“Akang hendak* menolong kamu” bisiknya nyaris* tak terdengar.

Kepalaku serasa dihantam petir mendengar pernyataan* dan keberaniannya mengungkapkan isi hatinya. Sungguh tidak cukup* ajar pria* ini. Berbicara seperti tersebut* tanpa merasa bersalah. Dadaku serasa sesak oleh amarah yang tak tersalurkan. Aku terdiam seribu bahasa, badanku serasa lemas tak bertenaga menghadapi fakta* ini. Aku malu sekali pelampiasanku sekitar* ini diketahui orang lain. Aku tak tahu hingga* sejauh mana Kang Hendi menyaksikan* rahasia di tubuhku. Aku tak hendak* membayangkannya.

Kang Hendi tidak menyerah begitu saja menyaksikan* kemarahanku. Kebingunganku telah menciptakan* diriku tidak cukup* waspada. Aku tak tahu semenjak* kapan Kang Hendi merapatkan tubuhnya kepadaku. Aku terjebak di ujung ranjang. Tak terdapat* jalan bagiku guna* melarikan diri. Semuanya tertutup oleh tubuhnya yang jauh lebih banyak* dariku.

Aku menyembunyikan kepalaku saat* ia merangkul tubuhku. Tercium wewangian* khas pria* tersebar dari tubuh Kang Hendi. Aku rasakan otot-otot tubuhnya yang keras menempel di tubuhku. Kedua tangannya yang kekar melingkar sampai-sampai* tubuhku yang jauh lebih mungil tertutup telah* olehnya.

Aku berontak seraya* mendorong dadanya. Kang Hendi justeru* mempererat pelukannya. Aku megap-megap* dibuatnya. Tenagaku sama sekali tak berarti dibanding kekuatannya. Nampaknya usaha percuma* belaka melawan tenaga pria* yang telah* kesurupan ini.

“Kang inget.. saya kan adik Akang juga. Lepasin saya kang. Saya janji nggak bakal* bilang sama teteh atau siapa aja..” pintaku memelas saking putus asanya.

Hibaanku sama sekali tak dihiraukan. Kang Hendi memang telah* kerasukan. Wajahku diciumi dengan sarat* nafsu bahkan tangannya telah* mulai menarik-narik pakaian tidurku. Aku berjuang* menghindar dari ciuman tersebut* sambil menyangga* pakaianku agr tak terbuka. Kami berkutat saling bertahan.

Kudorong tubuh Kang Hendi sekuat tenaga seraya* terus-terusan mengingatkan dia supaya* menghentikan perbuatannya. Lelaki yang telah* kerasukan ini mana dapat* dicegah, malah* sebaliknya ia semakin garang. Pakaian tidurku yang tercipta* dari kain tipis tak dapat* menahan kekuatan tenaganya. Hanya dengan sekali sentakan, tersiar* suara pakaian dirobek. Aku terpekik kaget. Pakaianku robek sampai* ke pinggang dan menunjukkan* dadaku yang telah* tak tertutup apa-apa lagi.

Kulihat mata Kang Hendi melotot menonton* buah dadaku yang montok dan kenyal, menggelantung estetis* dan menggairahkan. Kedua tanganku dengan cepat menutupi ketelanjanganku dari tatapan binal* mata pria* itu. Upayaku tersebut* membuat Kang Hendi semakin beringas. Ia marah dan unik* kedua kakiku sampai* aku terlentang di ranjang. Tubuhnya yang besar dan kekar tersebut* langsung menindihku. Nafasku hingga* tersengal menyangga* beban di atas tubuhku.

“Kang jangan!” cegahku saat* ia membuka tangannku dari atas dadaku.

Kedua tanganku dicekal dan dihimpit setiap* di sisi kepalaku. Dadaku jadi tersingkap* lebar mendemonstrasikan* keindahan buah dadaku yang menjulang tegar ke atas. Kepalaku meronta-ronta begitu kurasakan wajahnya menghampiri* ke atas dadaku. Kupejamkan mataku.

Aku tak hendak* menyaksikan unsur* tubuhku yang tak pernah tersentuh orang beda* kecuali suamiku itu, dirambah dengan kasar oleh Kang Hendi. Aku tak rela ia menjamahnya. Kucoba meronta di bawah himpitan tubuhnya. Sia-sia saja. Air mataku langsung menetes di pipi. Aku tak sanggup menyangga* tangisku atas tindakan* tak senonoh ini.

Kulihat wajah Kang Hendi menyeringai senang melihatku tak meronta lagi. Ia terus merayuku sambil berbicara* bahwa dirinya malah* menolong diriku. Ia, katanya, akan berjuang* memberikan apa yang sekitar* ini kudambakan.

“Kamu tenang aja dan nikmati. Akang janji bakal* pelan-pelan. Nggak kasar asal kamu tidak boleh* berontak..” katanya kemudian.

Aku tak hendak* mendengarkan umbaran bualan dan rayuannya. Aku enggan* Kang Hendi mengucapkan ucapan-ucapan* seperti itu, sebab* aku tak rela diperlakukan laksana* ini. Aku benar-benar tak berdaya di bawah kekuasaannya. Aku hanya dapat* terkulai pasrah dan terpaksa tidak mempedulikan* Kang Hendi menciumi wajahku sesuka hati. Bibirnya dengan leluasa mengulum bibirku, menjilati semua* wajahku. Aku melulu* diam tak bergerak dengan mata terpejam.

Hatiku menjerit menikmati* cumbuannya yang semakin liar, menggerayang ke leher dan teus turun ke atas dadaku. Aku menyangga* nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas mencari* kemulusan kulit buah dadaku. Kadang-kadang lidahnya menjentik sekali-sekali ke atas putingku.

“Nggak rela.. nggak rela..!” jeritku dalam hati.

Kudengar nafasnya semakin menderu kencang. Terdengar suara kecipakan mulutnya yang dengan rakus melumat semua* payudaraku yang montok. Seolah hendak* merasakan masing-masing* inci kekenyalannya. Aku seakan terpana oleh cumbuannya. Hatiku bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi pada diriku.

Kemana tenagaku? Kenapa aku tidak berontak? Kenapa tidak mempedulikan* Kang Hendi melakukan* semaunya padaku? Aku mendengus putus asa* oleh perasaanku sendiri. Aku benci pada diriku sendiri yang begitu gampang* terpedaya oleh kelihaiannya bercumbu. Terjadi konflik bathin dalam diriku. Di satu sisi, aku tak hendak* diriku menjadi sasaran lunak* nafsu pria* ini. Aku ialah* seorang perempuan* bersuami. Terpandang. Memiliki kehormatan.

Aku bukanlah perempuan* murahan yang bisa* sesuka hati menggali* kepuasan. Tetapi di sisi lain, aku menikmati* suatu tekanan* dalam diriku sendiri. Suatu kemauan* yang begitu kuat, meletup-letup tak terkendali. Kian lama makin* kuat desakannya. Tubuhku hingga* berguncang hebat menikmati* perang bathin ini. Aku tak tahu mana yang lebih kuat. Bukankah perasaan ini yang kuimpikan masing-masing* malam?

Tanpa sadar dari bibirku meluncur desisan dan rintihan lembut. Meski paling* perlahan, Kang Hendi bisa* mendengarnya dan menikmati* perubahan yang terjadi dari tubuhku. Ia tersenyum sarat* kemenangan. Ia nampak begitu yakin bahwa aku bakal* menyerah kepadanya. Bahkan kedua cekalan tangannya pada tanganku pun dicungkil* dan beralih* ke atas buah dadaku guna* meremasnya. Ia paling* yakin aku tak bakal* berontak walau* tanganku telah* terbebas dari cekalannya.

Memang mustahil* dipungkiri kepercayaan* Kang Hendi ini. Aku sendiri tidak memanfaatkan terbebasnya tanganku guna* mendorong tubuhnya dari atasku. Aku justeru* menaruhnya di atas kepala Kang Hendi yang bergerak bebas di atas dadaku. Tanganku justeru* meremas rambutnya, mengurangi* kepalanya ke atas dadaku.

“Kang udah.. jangaann..!” rintihku masih memintanya berhenti.

Oh sungguh munafik sekali diriku! Mulutku terus-terusan menangkal* namun prakteknya* aku justeru* mendorongnya untuk melakukan* lebih jauh lagi. Akal sehatku telah* hilang entah kemana. Aku telah* tak ingat bakal* suamiku, kakakku, atau diriku sendiri. Yang kuingat hanyalah rangsangan dahsyat dampak* jilatan dan kuluman bibir Kang Hendi di seputar putingku. Tangannku menggerayang di atas punggungnya.

Meraba-raba kekerasan otot-otot pejalnya. Aku semakin terbang melayang, menginginkan* keperkasaannya. Inikah jawaban atas seluruh* mimpi-mimpiku sekitar* ini? Haruskah seluruh* ini kulakukan? Meski dengan kakak iparku sendiri? Apakah aku me*sti mengorbankan semuanya? Pengkhianatan pada suamiku? Kakakku? Hanya guna* memuaskan keinginanku seorang? Aakkhh.. tidak.. tidak! jeritku menilik* semua ini.

Namun apa inginkan* dikata, cumbuan Kang Hendi yang begitu lihai kelihatannya* tahu serupa** keinginanku. Kebutuhanku yang sudah lumayan* lama terkekang. Letupan gairah perempuan* kesepian yang tak pernah terlampiaskan. Peperangan dalam bathinku usai telah* dan aku lebih mengekor* naluri gairah birahiku.

“Akaangg..!” jeritku lirih tak sadar memanggil namanya ketika* puting susuku disedot kuat-kuat.

Aku menggelinjang kegelian. Sungguh nikmat sekali hisapan itu. Luar biasa. Kurasakan selangkanganku mulai basah, meradang. Tubuhku menggeliat-geliat laksana* ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan mulut Kang Hendi di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.

“Oohh Neng.. bagus sekali teteknya. Akang suka sekali.. mmpphh.. wuiihh.. montok banget” komentar Kang Hendi.

Sebenarnya hatiku tak menerima ucapan-ucapan kotor yang terbit* dari mulut Kang Hendi. Sepertinya aku ini perempuan* murahan, yang biasa mengobral tubuhnya melulu* demi kepuasan pria* hidung belang. Tetapi perasaan tersebut* akhirnya tertutup oleh kemahirannya dalam mencumbu diriku. Tubuhku kelihatannya* menyambut hangat masing-masing* kecupan hangat bibirnya. Badanku melengkung dan dadaku dibusungkan untuk memburu* kecupan bibirnya. Nampaknya malah* akulah yang menjadi agresif. Liar laksana* kuda liar* yang baru lepas kandang.

“Mmpphh.. Neng Anna.. bila** saja Akang dari dulu tahu. Tentunya Neng nggak butuh* lagi gelisah tiap malam sendirian. Akang tentu* mau nemenin semalamam..” celoteh Kang Hendi seakan tak tahu alangkah* malunya diriku mendengar perkataan* itu.

Aku telah* tak perduli lagi dengan celotehan tak senonohnya. Aku sudah menyimpulkan* untuk merasakan* apa yang sedang kunikmati ketika* ini. Kudorong kepala kang Hendi ke bawah menyusur perutku. Aku hendak* merasakan seperti ketika* kubermimpi tadi. Rupanya Kang Hendi memahami* keinginanku. Dengan nafsu menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangannya menelusup ke bawah tubuhku, mencekal pinggangku.

Mengangkat pinggulku sedikit lantas* tangannya ditarik ke bawah meraih tepian celana dalamku dan memelorotkannya sampai* terlepas dari kedua kakiku. Aku mengekor* apa yang ia lakukan. Aku sekarang* sudah terbebas. Pakaian tidurku entah telah* tercampak dimana. Tubuhku telah* telanjang bulat, tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.

Kulirik Kang Hendi terbelalak memandangi ketelanjanganku. Ia seolah tak percaya dengan apa yang terdapat* dihadapan matanya kini. Gairahku seakan inginkan* meletup menyaksikan* tatapan sarat* pesona mata Kang Hendi. Membuatku demikian tersanjung. Aku bangga dikarunia format* tubuh yang begitu indah.

Kedua dadaku membusung penuh, keras dan kenyal. Perutku ramping dan rata. Pinggulku mempunyai* lekukan yang estetis* dan pantatku bulat penuh, menungging indah. Kedua kakiku panjang dan ramping. Mulai dari pahaku yang gempal dan format* betisku yang menggairahkan.

Mungkin kang Hendi tak pernah mengira bakal* keindahan tubuhku ini sebab* memang keseharian* aku selalu memakai* pakaian yang tidak pernah menonjolkan lekukan tubuhku. Aku dapat* membayangkan bagaimana terkagum-kagumnya Kang Hendi melihatku dalam suasana* telanjang bulat.

“Neng.. anda* cantik sekali. Sempurna.. oohh estetis* sekali. Mmhh.. teteknya montok dan aakkhh.. lebat sekali..” puji Kang Hendi tak henti-hentinya menatap selangkanganku yang diisi* bulu hitam lebat, kontras dengan warna kulitku yang putih bersih.

Mataku melirik ke bawah menyaksikan* tonjolan keras di balik cawatnya. Uugghh.. kurasakan dadaku berdegub, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh gairah menginginkan* batang keras dibalik cawatnya. Gede sekali dan panjang! Lenguhku dalam hati sambil menyangga* rangsangan hebat.

“Kaanngg.. ngghh.. tidak boleh* ngeliatin aja. Khan malu..” rengekku manja dengan gaya mulai bergenit-genit.

Seakan baru tersadar dari keterpesonaannya, Kang Hendi kemudian* mulai beraksi.

“Abisnya cantik sekali anda* sih, Neng” katanya lantas* seraya mencungkil* cawatnya sampai* ia pun sekarang* sama-sama telanjang.

Kulihat batang kontolnya yang keras tersebut* meloncat terbit* seperti terdapat* pernya begitu lepas dari kungkungan cawatnya. Mengacung tegang dengan gagahnya. Aku terbelalak melihatnya. Benar saja besar dan panjang. Kulihat otot-ototnya melingkar di sekujur batang itu. Aku telah* tak sabar hendak* merasakan kekerasannya dalam genggamanku.

Terus cerah* baru kali ini aku menyaksikan* kontol di samping* milik suamiku. Dan apa yang dipunyai* kang Hendi menciptakan* punya suamiku laksana* milik anak kecil saja. Lagi-lagi aku membanding-bandingkan. Buru-buru pikiran tersebut* kubuang. Aku lebih suka menyambut kedatangan Kang Hendi menindih tubuhku lagi.

Kini aku langsung menyambut hangat ciumannya seraya* merangkulnya dengan erat. Ciuman Kang Hendi benar-benar menghanyutkan. Aku dibuatnya bergairah. Apalagi kurasakan gesekan kontol yang keras di atas perutku semakin menciptakan* gairahku meledak-ledak. Kang Hendi kemudian* kembali menciumi buah dadaku.

Kali ini kusodorkan dengan sepenuh hati. Kurasakan hisapan dan remasannya dengan sarat* kenikmatan. Tanganku mulai berani lebih nakal. Menggerayang ke sekujur tubuhnya, bergerak perlahan tetapi* pasti ke arah batangnya. Hatiku berdesir kencang menikmati* batang nan keras tersebut* dalam genggamanku. Kutelusuri mulai dari ujung hingga* pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah mencari* urat-urat yang melingkar di sekujur batangnya.

Kukocok perlahan dari atas ke bawah dan sebaliknya. Terdengar Kang Hendi melenguh perlahan. Kuingin ia merasakan kesenangan* yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang telah* licin oleh cairannya. Lagi-lagi Kang Hendi melenguh. Kali ini lebih keras.

Tiba-tiba saja ia mengembalikan* tubuhnya. Kepalanya serupa** berada di atas selangkanganku sedangkan* miliknya serupa** di atas wajahku. Kulihat batangnya bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek mulutku. Entah dari mana keberanianku muncul, mulutku langsung menciduk* kontolnya. Kukulum pelan-pelan.

Sesungguhnya aku tak pernah mengerjakan* hal ini untuk* suamiku sebelumnya. Aku tak mengerti mengapa* aku bisa pulang* menjadi* binal, tak terdapat* bedanya dengan perempuan-perempuan badung* di jalanan. Namun aku tak peduli. Aku hendak* merasakan kemerdekaan* yang sebenar-benarnya. Kuingin seluruh* naluriku melampiaskan fantasi-fantasi binal* yang terdapat* dalam diriku. Kuingin merasakan* semuanya.

Kang Hendi enggan* kalah. Lidahnya menjulur mencari* garis memanjang bibir kemaluanku. Aku terkejut laksana* terkena listrik. Tubuhku bergetar. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana. Lidah Kang Hendi bermain lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku.

Aku laksana* melayang-layang di atas awan. Ini adalah*pengalaman yang spektakuler* selama hidupku. Aku tak pernah menikmati* dijilati seperti tersebut* sebelumnya. Nikmatnya sungguh tak terkira. Pinggulku tak dapat* diam, mengekor* kemana jilatan lidah Kang Hendi berada.

Tubuhku laksana* dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan tekanan* kuat dalam tubuhku. Rasanya aku tak tahan menerima kesenangan* ini. Perutku mengejang. Kakiku merapat, mengapit* kepala Kang Hendi. Seluruh otot-ototku menegang. Jantungku serasa berhenti.

Aku berkutat sekuat tenaga hingga* akhirnya ku tak dapat* lagi dan langsung melepaskannya diiringi jeritan lirih dan panjang. Tubuhku menghentak berkali-kali mengekor* semburan cairan hangat dari dalam liang memekku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Puncak kesenangan* yang kucapai kali ini sungguh spektakuler* dan dahysat. Aku merasa sudah* terbebas dari sesuatu yang paling* menyesakan dada sekitar* ini.

“Oohh.. Kaanngg.. ngghh.. enak sekali..” rintihku tak kuasa menyangga* diri.

Aku sendiri tak sadar dengan apa yang kuucapkan. Sungguh memalukan sekali pernyataan* atas kesenangan* yang kurasakan ketika* itu. Aku tak hendak* Kang Hendi menilai rendah diriku. Ku tak hendak* ia tahu aku sangat merasakan* cumbuannya. Kulihat Kang Hendi tersenyum di bawah sana. Ia merasa telah* mendapatkan kemenangan atas diriku.

Ia bangga dengan kehebatannya bercinta sampai* mampu membuatku orgasme lebih dulu. Aku tak bisa melakukan* banyak, sebab* harus kuakui bahwa diriku paling* membutuhkannya ketika* ini. Membutuhkan apa yang sedang kuggengam dalam tanganku. Benda yang pastinya* akn memberikan kesenangan* yang lebih dari yang kudapatkan barusan.

Tanpa sadar jemariku meremas-remas pulang* batang kontolnya. Kukocok perlahan dan kumasukan ke dalam mulutku. Kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan Kang Hendi meregang, mengerang* kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya laksana* itu. Aku hendak* ia merasakan kesenangan* pula. Kenikmatan yang bakal* membuatnya memohon-mohon padaku. Kulumanku semakin panas. Lidahku melata-lata binal* di sekujur batangnya. Aku bertekad untuk menerbitkan* air maninya secepat mungkin.

Terdengar suara selomotan mulutku. Kang Hendi merintih-rintih keenakan. Rasain, runtukku dalam hati dan mulai tak sabar hendak* melihat air maninya menyembur keluar. Di atas tubuhku, Kang Hendi menggerakan pinggulnya seolah sedang bersenggama, melulu* saja saat tersebut* kontolnya menancap dalam mulutku.

Kuhisap, kusedot kuat-kuat. Ia masih bertahan. Aku kembali berjuang* tetapi nampaknya ia belum menunjukkan* tanda-tanda. Aku telah* mulai kecapaian. Mulutku terasa kaku. Sementara gairahku mulai bangkit kembali. Liang memekku telah* mulai mengembang dan basah kembali, sementara* kontol Kang Hendi masih tegang dan gagah perkasa. Bahkan terasa lebih keras.

“Udah Neng. Ganti posisi aja..” kata Kang Hendi lantas* seraya mengembalikan* tubuhnya dalam posisi lazimnya* bersetubuh.

Kang Hendi memang piawai dalam bercinta. Ia tidak langsung menancapkan kontolnya ke dalam memekku, namun* digesek-gesekan dulu di dekat* bibir kemaluanku. Ia kelihatannya* sengaja mengerjakan* itu. Kadang-kadang ditekan laksana* akan dimasukan, tetapi lantas* digeserkan pulang* ke ujung atas bibir kemaluanku menyentuh kelentitku. Kepalanya digosok-gosokan. Aku menjerit lirih saking keenakan. Ngilu, enak dan entah apa lagi rasanya.

“Kaangg.. aduuhh.. udah kang! Sshh.. mmppffhh.. ayoo kang.. masukin aja.. nggak tahan!” pintaku menjerit-jerit tanpa malu-malu.

Aku telah* tak memikirkan lagi kebesaran* diriku. Rasa gengsi atau apapun. Yang kuinginkan sekarang ialah* ia segera memenuhi* kekosongan liang memekku dengan kontolnya yang besar dan panjang. Aku nyaris menjangkau* orgasme lagi melulu* dengan menginginkan* betapa nikmatnya kontol sebesar tersebut* mengisi sarat* liang memekku yang rapat.

“Udah nggak tahan ya, Neng” candanya sampai-sampai* membuatku blingsatan menyangga* nafsu. Kurang ajar sekali Kang Hendi ini. Ia tahu aku telah* dalam kendalinya jadi dapat* mempermainkan perasaanku semau-maunya.

Aku gemas sekali melihatnya menyeringai laksana* itu. Di luar dugaannya, aku langsung mengurangi* pantatnya dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Kang Hendi sama sekali tak menyangka urusan* ini. Ia lupa* menahannya. Maka tak ayal lagi batang kontolnya melesak ke dalam liang memekku. Aku segera membuka kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin untuk* kontolnya.

Aku berteriak kegirangan dalam hati, kesudahannya* kontol Kang Hendi sukses* masuk seluruhnya. Meski lumayan* menyesakkan dan menciptakan* liang memekku terkuak lebar-lebar, namun* aku puas dan lega sebab* keinginanku terjangkau* sudah. Kulihat wajah Kang Hendi terbelalak tak menyangka bakal* perbuatanku. Ia melirik ke bawah menyaksikan* seluruh kontolnya tenggelam* dalam liangku. Aku tersenyum menyaksikannya.

Ia balas tersenyum, “Kamu badung* ya..” katanya kemudian.
“Awas, entar Akang buat* kamu mati keenakan. ”
“Mau doongg..” jawabku dengan genit sambil mendekap* tubuh kekarnya.

Kang Hendi mulai menggerakan pinggulnya. Pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digeol-geolkan sampai-sampai* ujung kontolnya menyentuh semua* relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya. Pinggulku berputar sarat* irama. Bergerak patah-patah, lantas* berputar lagi. Goyangan ini timbul begitu saja dalam benakku. Mungkin terlalu tidak jarang* nonton biduan* dangdut bergoyang di panggung.

Tetapi efeknya sungguh luar biasa. Kang hendi tak henti-hentinya memuji goyanganku. Ia bilang belum pernah menikmati* goyangan sehebat ini. Aku tambah bergairah. Pinggulku terus bergoyang tanpa henti seraya* mengedut-edutkan otot vaginaku sampai-sampai* Kang Hendi menikmati* kontol laksana* diemut-emut.

“Akkhh Neengg.. eennaakkhh.., hebaathh.. uugghh..” erangnya berulang-ulang.

Kang Hendi mempercepat irama tusukannya. Kurasakan batang kontol besar tersebut* keluar masuk liang memekku dengan cepatnya. Aku imbangi dengan cepat pula. Kuingin Kang Hendi lebih cepat keluar. Aku hendak* membuatnya KO! Kami saling berlomba, berjuang* saling mengalahkan.

Kuakui permainan Kang Hendi memang luar biasa. Mungkin bila** aku belum sempat orgasme tadi, pastinya* aku sudah terbit* duluan. Aku tersenyum menyaksikan* Kang Hendi nampak berjuang* keras guna* bertahan, sebenarnya* sudah kurasakan tubuhnya mulai mengejang-ngejang. Aku beranggapan* ia bakal* segera tumpah.

Pinggulku meliuk-liuk binal* bak kuda binal. Demikian pula Kang Hendi, pantatnya mengaduk-aduk cepat sekali. Semakin meningkat* cepat, telah* tidak beraturan laksana* tadi. Aku terperangah sebab* tiba-tiba saja terasa aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Akh.. nampaknya aku sendiri tidak tahan lagi.

Memekku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung puting susuku mengeras, mencuat berdiri tegak. Mulut Kang Hendi langsung menangkapnya, menyedot kedua susu ku kuat-kuat. Menjilatinya dengan sarat* nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa barangkali* dan oohh.. rasanya aku tak powerful* lagi bertahan.

“Kang Hendi! Cepet keluarin juga..!” teriakku sambil mengurangi* pantatnya kuat-kuat supaya* mendesak selangkanganku.

Beberapa detik lantas* aku segera menyemburkan air maniku disusul lantas* oleh semprotan cairan hangat dan kental menyirami semua* liang memekku. Tubuh Kang Hendi bergetar keras. Ia peluk diriku erat-erat. Aku balas memeluknya. Kami kemudian* bergulingan di ranjang merasakan kesenangan* puncak permainan cinta ini dengan sarat* kepuasan. Kami merasakannya bersama-sama.

Kami telah* tidak memperdulikan tubuh kami yang telah* basah oleh peluh keringat, bantal berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan, terlepas dari ikatannya. Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geramannya. Kedua kakiku melingkar di seputar pinggangnya. Aku masih menikmati* kedutan-kedutan batang kontol Kang Hendi dalam memekku.

Nikmat sekali permainan gairah cinta yang sarat* dengan gelora nafsu birahi ini. Aku termenung menikmati* sisa-sisa akhir kesenangan* ini. Pikiranku menerawang jauh. Apakah aku masih dapat* merasakan kehangatan ini bareng* Kang Hendi. Apakah melulu* sampai disini saja menilik* perselingkuhan ini suatu ketika* akan terungkap juga.

Bagaimana akibatnya? Bagaimana perasaan kakakku? Orang tuaku, suamiku dan yang lainnya? Akh! Aku enggan* memikirkannya ketika* ini. Aku tak hendak* kenikmatan ini terganggu oleh hal-hal lain. Kuingin menikmati* semuanya malam ini bareng* Kang Hendi. Lelaki yang telah menyerahkan* pengalaman baru dalam bercinta. Dialah orang yang telah menciptakan* lembaran baru dalam garis kehidupan masa depanku.

Semenjak peristiwa di malam itu, aku dan Kang Hendi tidak jarang* kali* mencari peluang* untuk melakukannya kembali. Ia memang seorang pria* yang benar-benar jantan. Begitu perkasa. Aku me*sti akui ia memang paling* pandai memuaskan perempuan* kesepian laksana* diriku. Ia selalu muncul* dalam dekapanku dengan gaya permainan yang berlainan.

Aku tidak penah jenuh* melakukannya, tidak jarang* kali* ada yang baru. Salah satu diantaranya, yang pun* adalah*gaya favoritku, ia berdiri seraya* memangku tubuhku. Kedua kakiku melingkar di pinggangnya, tanganku bergelayut di lehernya supaya* tak terjatuh. Selangkanganku tersingkap* lebar dan batang kontolnya menusuk dari bawah. Aku bergelayutan laksana* dalam buaian* mengimbangi tusukan kontolnya.

Kang Hendi mengerjakan* semua tersebut* sambil berlangsung* mengelilingi kamar dan baru berhenti di depan cermin. Saat kumenoleh kebelakang aku dapat* melihat bayang-bayang* pantatku bergoyang-goyang sedangkan* kontolnya terlihat terbit* masuk memekku. Sungguh asyik sekali permainan dalam gaya ini.

Namun perselingkuhanku dengan Kang Hendi dilangsungkan* tak begitu lama. Aku sudah paling* ketakutan seluruh* ini suatu ketika* terungkap. Makanya aku menyimpulkan* untuk pindah dari kampungku supaya* tidak bertemu lagi dengannya. Terus cerah* saja, sesudah* kejadian itu, malah* akulah yang tidak jarang* memintanya guna* datang ke kamarku malam-malam.

Aku tak pernah dapat* menahan diri. Apalagi bila** sudah melihatnya berkelakar* mesra dengan kakakku. Pernah sebuah* kali aku penasaran guna* mengintip mereka bercinta di kamarnya. Aku keadaan bingung* sendiri hingga* akhirnya lari ke kamar dan melakukannya sendiri sampai* aku menjangkau* kenikmatan sebab* menunggu Kang Hendi jelas tak mungkin sebab* istrinya terdapat* di rumah.

Keadaan ini jelas tak mungkin dilangsungkan* terus menerus, selain bakal* terungkap, akupun rasanya bakal* menderita me*sti bertahan laksana* ini. Dengan berat hati kesudahannya* aku pindah ke kota. Kujual seluruh* hartaku, termasuk lokasi* tinggal* tinggal, sawah dan ternak-ternak milikku guna* modal nanti di kehidupanku yang baru.

Kecuali mobil sebab* kuanggap bakal* sangat bermanfaat* sebagai perangkat* transportasi guna* menunjang kegiatanku nanti.

Video bokep Indonesia

About operator

Check Also

cerita-dewasa-ngentot-cewek-binal-berkali-kali

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri

Cerita Sex Dewasa ML Dengan Anak Didik Sendiri,, Senin, Rabu dan Jumat ialah jadwalku melatih …